Menu

Mode Gelap
 

Artikel · 6 Mar 2024 19:07 WIB

Merti Desa Serentak di 19 Kecamatan, Warga Kabupaten Semarang Ikut Meriahkan Susuk Wangan.


Merti Desa Serentak di 19 Kecamatan, Warga Kabupaten Semarang Ikut Meriahkan Susuk Wangan. Perbesar

Apa itu Susuk Wangan ? 

Susuk wangan sendiri merupakan tradisi turun-temurun yang dilakukan masyarakat setempat di Kab. Semarang. Susuk Wangan adalah tradisi membersihkan sumber air, sebagai lambang atas rasa rasa syukur dari nikmat yang diberikan Allah SWT. Warga berpendapat bahwa sebenarnya anjuran untuk menjaga dan melestarikan sumber air ada dalam ajaran Agama. Menurut para warga, melakukan kegiatan Susuk Wangan akan terus mengingatkan kepada mereka agar selalu mengingat jalan kebaikan. Sumber mata air juga diharapkan tetap lestari hingga generasi-generasi mendatang.

Sejak kapan warga budaya merti desa ini dilestarikan ?

Kegiatan Merti Desa ini sudah dilakukan warga Kabupaten Semarang sejak 7 tahun yang lalu. Kegiatan merti dusun ini dilakukan setiap bulan Februari atau Maret di 19 Kecamatan Serentak di wilayah Kabupaten Semarang. Kegiatan Merti dusun ini merupakan rangkaian awal dari perayaan HUT Kabupaten Semarang pada tanggal 17 Maret.

Bagaimana proses merti desa ini berlangsung ? 

Warga desa setempat akan melakukan arak-arakan tumpeng dan jajanan pasar dari rumah tokoh desa setempat menuju ke sumber air. Baru di sumber air tersebut warga melakukan proses bersih sendang atau sumber mata air. Selain melakukan kegiatan susuk wangan, warga juga melakukan kegiatan tanam pohon sebagai simbol kepedulian terhadap lingkungan sekitar ada juga yang melakukan kegiatan pelepasan burung perkutut secara simbolik sebagai lambang kebebasan. Kegiatan-kegiatan di atas merupakan rangkaian awal peringatan HUT Kabupaten Semarang, diikuti dengan acara puncaknya berupa air dari mata air yang terletak di 19 Kecamatan diarak mengelilingi Kabupaten dan berakhir di Masjid Agung Ungaran.

Kapan kegiatan arak-arakan air tersebut dilakukan ?

Kegiatan arak-arakan air dilakukan pada tanggal 6 dan 7 Maret. Pada tanggal 7 Maret mata air akan tiba di Pendopo Rumah Dinas Bupati Semarang untuk menjalani prosesi penjamasan pusaka. Penjamasan pusaka merupakan sebuah prosesi dimana pusaka yang merupakan peninggalan Ki Ageng Pandanaran berupa Tombak Lurus, Tombak Trisula Nggligir Lembu, Dhuwung Lok Pitu Mantan Sinarasah serta Tombak Trisula Sakti, dibersihkan dengan cara dicuci menggunakan air yang berasal dari 19 sumber air kecamatan yang ada di Kabupaten Semarang. Pusaka yang telah dijamas dikirap mengelilingi pendopo sebelum akhirnya dibawa masuk kembali menuju Gedung Pusaka Rumah Dinas Bupati Semarang. 

Bagaimana dampak dari kegiatan Susuk Wangan ini bagi Masyarakat dan Apakah kegiatan ini perlu dilestarikan ?

Susuk Wangan merupakan kegiatan kebudayaan yang sudah dilakukan kurang lebih 7 tahun dan telah ada mungkin dari puluhan tahun yang lalu. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan agar  masyarakat tetap menjaga dan melestarikan sumber air yang ada, kedepannya selalu dilimpahkan rezeki, keselamatan dan keberkahan. Kegiatan ini perlu dilestarikan kedepannya karena dapat mempererat tali persaudaraan dan menjaga guyub rukun di dalam kehidupan bermasyarakat. 

(Ferly/POTLOT)

Artikel ini telah dibaca 38 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Doxing di Kalangan Mahasiswa: Fenomena yang Mengkhawatirkan

31 Mei 2024 - 14:16 WIB

Upaya Pengelolaan Stress dalam Kehidupan Mahasiswa

18 Mei 2024 - 14:28 WIB

Investor muda mendominasi pasar modal : Faktor ketertarikan Gen Z terhadap investasi 

9 Mei 2024 - 18:23 WIB

Strategi Pembelajaran Abad 21 (Abad Digital)

6 Mei 2024 - 10:00 WIB

Mitigasi Sebagai Upaya Mengurangi Risiko Bencana Alam

1 Mei 2024 - 10:11 WIB

Membentuk Keyakinan melalui Keterampilan Berbicara di Depan Umum 

27 April 2024 - 14:55 WIB

Trending di Artikel