Menu

Mode Gelap
 

Artikel · 19 Apr 2024 10:49 WIB

MENJADI GENERASI MUDA YANG PEDULI AKAN KESEHATAN MENTAL


MENJADI GENERASI MUDA YANG PEDULI AKAN KESEHATAN MENTAL Perbesar

Kesehatan mental telah menjadi isu penting yang patut mendapat perhatian khusus selama satu dekade terakhir. Bukan hanya permasalahan kesehatan mental secara global saja yang memerlukan penanganan intensif, namun permasalahan kesehatan mental pada generasi muda terlebih mahasiswa pun harus mendapat perhatian yang lebih. Gangguan kesehatan mental pada generasi muda jelas akan mempengaruhi kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia di masa depan.

Kesehatan mental adalah suatu kondisi kesehatan yang berkaitan dengan aspek kejiwaan, psikologis, dan emosional seseorang. Kesehatan mental mencerminkan tingkat keseimbangan emosional, kemampuan mengatasi stres, dan kualitas hubungan interpersonal seseorang.

Dalam website Kemdikbud.go.id disebutkan bahwa gangguan kesehatan mental kini banyak terjadi pada kelompok usia 18 hingga 25 tahun. Dengan kata lain, fenomena ini erat kaitannya dengan generasi muda dan mahasiswa. Sebanyak 64% generasi muda mengalami masalah kecemasan, dan 61,5% diantaranya mengalami gejala depresi. 

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pelajar saat ini sangat rentan  mengalami gangguan kesehatan mental. Di bawah ini adalah beberapa jenis penyakit mental yang umum ditemui pada mahasiswa:

  1. Depresi
    Menurut studi yang dilakukan oleh American Psychological Association, kasus gangguan mental di kalangan mahasiswa meningkat 10 kali selama dekade terakhir. Ada banyak alasan mengapa mahasiswa rentan mengalami depresi. Beberapa di antaranya adalah karena kurangnya kontrol dalam penjadwalan waktu bermain dan belajar. Ketika persaingan dalam pembelajaran semakin terbuka, mahasiswa menjadi kurang percaya diri terhadap kemampuannya dan merasa kurang mampu dibandingkan teman sebayanya.
  2. Insomnia
    Mahasiswa kerap kali begadang di malam hari untuk belajar atau mengerjakan tugas. Kebiasaan ini dapat berdampak buruk pada kesehatan. Insomnia, yang menyebabkan seseorang kurang istirahat, diketahui memberikan dampak buruk pada fungsi kognitif. Ketika tidak cukup tidur atau istirahat, akan membuat otak seseorang menjadi mudah lelah serta kemampuan berkonsentrasi dan berpikir menjadi menurun.
  3. Rasa Cemas Berlebihan
    Kecemasan berlebihan atau gangguan kecemasan (anxiety disorder) dapat mengganggu kehidupan sehari-hari dan membuat  tidak mungkin untuk seseorang menjalani kehidupan dengan normal. Faktanya, gangguan kecemasan bersifat melumpuhkan dan meningkatkan risiko penyakit jantung, sehingga tidak boleh dianggap remeh. 
  4. Gangguan Makan
    Gangguan makan merupakan penyebab paling umum terjadinya gangguan kesehatan mental pada mahasiswa. Gangguan ini diperburuk ketika seseorang tidak menyadari bahwa dirinya mengidap kelainan makan. Jika Anda melihat adanya perubahan pada perilaku makan Anda, seperti makan  lebih banyak atau kurang makan, ini bisa menjadi tanda awal  gangguan makan.

Tips agar Mahasiswa Dapat Menjaga Kesehatan Mental di Kehidupan Perkuliahan 

  1. Belajar mengelola waktu secara efektif
    Manajemen waktu merupakan salah satu keterampilan penting untuk menjaga kesehatan mental mahasiswa. Jangan biarkan aktivitas berlebihan di kampus membuat Anda stres. Pastikan untuk menjadwalkan waktu untuk kegiatan di kampus, penyelesaian pekerjaan rumah, dan kegiatan lainnya. 
  2. Kenali gaya belajar yang sesuai dengan diri kita
    Gaya belajar sendiri dapat diartikan sebagai kecenderungan seseorang dalam melakukan pendekatan belajar. Menerapkan gaya belajar yang tepat akan menjamin Anda mendapatkan hasil belajar terbaik. 
  3. Menjaga kesehatan fisik
    Jangan lupa bahwa kesehatan jasmani erat kaitannya dengan kesehatan jiwa. Saat Anda merasa tidak enak badan, kemungkinan besar Anda akan merasa lelah dan akhirnya merasa lebih stres. 
  4. Temukan support system
    Penting bagi mahasiswa untuk memiliki seseorang yang siap memberikan dukungan setiap saat, baik itu dukungan emosional, dukungan informasi, atau dukungan praktis. Teman, keluarga, pembimbing akademik, dan dosen yang mudah diajak bicara dapat memberikan dukungan positif bagi mahasiswa. Memendam sendiri atau menghindari masalah yang sedang dihadapi tidak akan menyelesaikan masalah.
  5. Beri ruang untuk kegiatan non-akademik
    Meskipun fokus mahasiswa ada pada bidang akademik, namun penting juga bagi mahasiswa untuk terus berpartisipasi dalam berbagai kegiatan non-akademik.  Kegiatan non-akademik juga dapat meningkatkan soft skill mahasiswa, kemampuan komunikasi, kemampuan bekerja di bawah tekanan dan kebiasaan disiplin.  Hal-hal ini akan membantu menjamin kesehatan mental mahasiswa.
  6. Cari bantuan profesional jika diperlukan
    Terakhir, jika  masalah kesehatan mental yang timbul tidak teratasi meskipun telah dilakukan berbagai upaya, mahasiswa diharapkan untuk mulai mencari bantuan profesional.

Menjaga kestabilan mental pada generasi muda dan terkhusus pada mahasiswa merupakan faktor terpenting dalam meningkatkan kualitas generasi muda negeri ini di masa mendatang. Mari menjadi bagian dari generasi muda yang lebih peduli tentang kesehatan mental dan mulai mengenali indikasi gejala pada diri sendiri dan lingkungan sekitar.

(Yuana/POTLOT)

Artikel ini telah dibaca 25 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Doxing di Kalangan Mahasiswa: Fenomena yang Mengkhawatirkan

31 Mei 2024 - 14:16 WIB

Upaya Pengelolaan Stress dalam Kehidupan Mahasiswa

18 Mei 2024 - 14:28 WIB

Investor muda mendominasi pasar modal : Faktor ketertarikan Gen Z terhadap investasi 

9 Mei 2024 - 18:23 WIB

Strategi Pembelajaran Abad 21 (Abad Digital)

6 Mei 2024 - 10:00 WIB

Mitigasi Sebagai Upaya Mengurangi Risiko Bencana Alam

1 Mei 2024 - 10:11 WIB

Membentuk Keyakinan melalui Keterampilan Berbicara di Depan Umum 

27 April 2024 - 14:55 WIB

Trending di Artikel